Kemaren saya belajar sosiologi. Ditengah ngantuk, haus, lapar dan malas. Sambil pura-pura mendengarkan padahal saya sedang mengerjakan soal Matematika yang susah dan belum selesai. Entah kenapa, tiba-tiba bahasan sudah melenceng jauh tentang masalah Indonesia yang sudah lumrah dan diketahui orang banyak. Apa lagi selain KKN dan betapa melaratnya rakyat kecil dipinggiran karena begitu terpuruknya ekonomi Indonesia? Pokok bahasan ini sangat luas, bahkan sampai jam pelajaran sosiologi sudah berakhir titik temunya belum ditemukan. Ah, entahlah. Saya juga masih ngerjain soal Matematika yang laknat susah itu. Sampai akhirnya, saya mau ngritik, kenapa masalah Indonesia tidak terselesaikan. Betul atau salahnya, entahlah. Tapi, kenapa masalah Indonesia tidak terselesaikan itu karena…
Para ahlinya saja tidak ahli dalam menyelesaikan masalahnya.
Yang saya maksudkan tentang ahli, ya, pejabat yang duduk di gedung – gedung pemerintahan. Pejabat yang katanya ‘wakil rakyat’ tapi tidak merakyat. Iya, tidak merakyat. Kalau mereka memang merakyat, pasti mereka tahu 5W+1H masalah yang terjadi di Indonesia plus jawabannya. Tapi sayangnya, mereka tidak tahu… Kenapa tidak tahu? Karena mereka tidak merasakan apa yang dirasakan rakyat. Contohnya saja…
Bagaimana caranya para pejabat tahu tentang kesulitan masyarakat dalam pemadaman listrik bergilir yang jelas-jelas mengganggu kegiatan rakyat (misal pelajar yang belajar malam-malam, diganggu karena mati lampu)? Kalau kantor atau rumah dinasnya sendiri tidak pernah mati listrik dan selalu on 24 jam. Atau mungkin, kantor mereka-mereka lah yang mengkonsumsi listrik paling banyak dan gratis (mungkin, saya juga tidak tahu). Beda sama rakyat yang selalu dilakukan mati listrik bergilir, bayar listrik mahal karena tingginya harga BBM. Beuh.
Bagimana caranya para pejabat tahu tentang kesulitan masyarakat tentang kemacetan jalan raya (misalnya di kota besar, di kota saya nggak pernah macet.
)? Jikalau setiap waktu para pejabat (khususnya presiden) ingin pergi melalui jalan yang macet, jalan yang dilalui harus kosong minimal 5 menit sebelum kedatangan sang pejabat. Malah katanya, karena kemacetan kota besar yang luar binasa itu, Presiden kita akan diberikan helikopter sendiri. Kontras sekali sama rakyat yang selalu menunggu bermenit-menit, panas-panasan dan harus bela-belain pergi lebih awal demi menghindari macet.
Bagaimana caranya para pejabat tahu tentang kesulitan masyarakat tentang buruknya kesehatan Indonesia (misalnya saja penyakit busung lapar)? Kalau makanan para pejabat itu sendiri harus diperiksa secara ketat agar terhindar dari penyakit. Tentu saja beliau mendapatkan makanan yang bergizi, 4 sehat 5 sempurna atau gizi berimbang. Sungguh lain sama rakyat kecil yang untuk makan saja susah, padahal pekerjaannya lebih berat dari pada pekerjaan pejabat.
Bagaimana caranya para pejabat tahu tentang kesulitan rakyat mendapatkan tempat tinggal? Kalau para pejabat yang membahasnya saja harus duduk dan membahasnya di meeting room Hotel mewah berbintang lima?
Bagaimana jadinya nasib rakyat yang dipimpin oleh para pejabat yang nantinya jadi orang bejat? Yang pada akhirnya juga, akan lari ke penjara atau ke neraka-karena praktek KKN?
Bagaimana jadinya kalau sang pejabat tahu apa yang sebenarnya yang terjadi dikalangan rakyat-rakyatnya? Apakah nantinya pejabat akan mengubah pola pikir untuk lebih merakyat, atau kah, tidak sadar sama sekali? Sekali lagi, entahlah…
Para pejabat memang tidak professional untuk menyelesaikan masalah Indonesia. Kenapa? Karena mereka saja tidak tahu dan tidak merasakan ketidaksejateranya rakyat Indonesia. Jadi, harusnya mereka merasakan kemelaratan dulu, baru berkuasa.
[/Thinking Mode : ON]
Hmm… benar atau tidak saya kurang tahu juga, sih. Tapi biarlah, sekali-kali pikirin Indonesia yang malang ini
Often called by SyaoranNatsume. Just a ordinary girl, with some point of otaku in her mind. A senior high school student at grade X. Currently 14 years old, now. Live in a earthquake-disaster city in Sumatera Island. Love all about Japanese, anime, manga, and games.
Banner's created by
Tulisan yang bagus, sebenarnya para pejabat itu tau kesusahan rakyat, cuman daripada nanti dia ketularan susah mumpung masih menjabat ya giat nabung dulu, justru karena ketakutan melihat melaratnya rakyat sehingga jadi gila menabung. Jadi kalo udah turun nanti tabungan udah cukup untuk 700 turunan wekekeke….
Mereka tau dan melihat kesengsaraan disekelilingnya, hanya saja kepedulian itu sudah punah karena perut lebih memegang kendali dibandingkan nurani. Mau salahkan siapa? salahkan saya aja deh kenapa bikin komentar ginian hahaha…
———
SyaoraNatsume
Jadi mereka kura-kura dalam perahu gitu? Emang!!
Saya menyalahkan pemerintah…
*sambil berharap tidak akan bekerja dipemerintahan*anda calon pemimpin bangsa ….
semoga…
asal jangan setelah duduk dan punya jabatan juga, jadi lupa..
hehehehe
———
SyaoraNatsume
saya? tidak mau!!! *protes*
*sok yakin*
tapi siapa yang bisa tahu takdir saya kedepan…
kalau saya calon pemimpin bangsa,, saya tidak akan menjadi pemimpin sekarang ini
tapi, saya tetap mencegah diri saya agar tidak jadi pemimpin di mana pun.
karena mimpin itu susah,,
Saya suka jadi pemimpin, atau lebih tepatnya, pemerintah. Bisa perintah sana-sini, dan tinggal menunggu jadwal gajian yang tepat waktu tanpa perlu kerja keras, turun ke lapangan.
Rakyat kecil? Ah, biarkan saja. Mau makan 4 sehat 5 semburat, kek™, nggak punya tempat tinggal, kek™. Memang guna mereka apa? Saya ndak peduli, pokoknya™ kebutuhan saya tercukupi.
Bzzt… bzzt…
*konslet*
———
SyaoraNatsume

mencontohkan gitu?
*sambil berdoa semoga mas Pandu tidak akan menjadi pemerintah*
Setuju ama Pandu. Vote Pandu for Gubernur SBY 2012!!! Yeah!
———
SyaoraNatsume
Udah ada yang dukung nih…
Sebenarnya ini masalah dari otoritas setempat juga…
Kadang-kadang data-data dibutakan oleh sebagian pemda. Misalnya saat laporan ke presiden, dikatakan bahwa tidak terjadi masalah yang aneh-aneh. Padahal kenyataannya di lapangan sangat berbeda. Atau ketika Presiden berkunjung, misalnya, segala hal dibikin sangat rapi. Kalau begitu, mana mungkin bisa tahu kalau di daerah yang bersangkutan sedang ada masalah?
———
SyaoraNatsume
nah, itu juga masalahnya… Dulu pernah SBY datang ke kota Bengkulu, kota Bengkulu jadi penuh pernak-pernik merah-putih. Seluruh sekolah ga boleh libur, harus tampak anak-anak bersekolah disana. Padahal sudah 1 minggu sebelum Lebaran,, tapi malah disuruh masuk sekolah…
jadi nampaknya bengkulu kota rame gitu? padahal sepi…
yang saya ga ngerti. kenapa pemimpin bisa dibohongin sama bawahannya? *ingat pak Suharto*.
Apa presiden ga punya TV?Iya juga. Mereka punya nggak ya?
*baru kepikiran* xD
Kalau Pak Habibie, saya denger punya komputer + akses internet di Istana Negara. Nggak tau kalo presiden2 yang lain.
Dan IMO beliau itu presiden yang kerjanya relatif bagus sepanjang era reformasi…———
SyaoraNatsume
Haha,, kalau dipikir-pikir pasti punya TV, tapi tontonannya dibatasi, atau sang Presiden ga punya waktu untuk nonton.
Tapi, tontonan pak Suharto, alm. kayaknya sangat dibatasi. Masa *katanya* anaknya masuk penjara dan bercerai aja ga tahu? Sang Presiden hanya tahu kabar-kabar baik saja, plus kabar-kabar yang dipalsukan…
Barangkali memang ngga sempat…
Sejujurnya, saya belum tahu kerjaan hariannya presiden itu seperti apa. Apakah setiap hari menandatangani dokumen saja?
Soal tontonan Pak Harto, saya jadi ingat Bung Karno. Waktu itu Bung Karno juga sumber informasinya dibatasi sekali, waktu dia sudah sakit-sakitan.
———
SyaoraNatsume
Iya, mungkin cuman duduk-tanda tangan dokumen-terima laporan-perintah bawahan, dll.

Kalau sudah sakit-sakitan sih mending, dari pada nanti jadi down karena mendengar negara yang dengan susah payah dimerdekakan dulu sedang hancur… Tapi, kalau kita bandingkan dengan Gus Dur, kalau tidak salah… tanpa tahu apa-apa dia malah disuruh keluar dari Istana Negara. Karena, dia cuman mendegar informasi yang mengenakkan telinga saja. Tapi, kalau dilihat dari kondisi fisiknya sih, mustahil juga bisa nonton TV.
No offense dulu, deh. Peace!
Seharusnya, jika para pemimpin2 itu mengaku Islam. Contohlah para pemimpin2 Islam jaman Khalifah.
Mereka tidak hidup mewah sebelum seluruh rakyatnya makmur
Mereka tidak memakai fasilitas kantor jika tidak diperlukan
Mereka tidak makan sesuatu diluar gaji
Mereka tidak makan jika rakyatnya kelaparan
Jika rakyat mengalami kelangkaan akan sesuatu, mereka tidak akan memakai benda itu
Contohlah Wahai Pejabat2 *******!!!
Maaf2 saya tiba2 panas…
———
SyaoraNatsume
Ah, saya jadi teringat cerita guru Agama dulu…
Sayangnya, pejabat sekarang banyak yang kafir. Mau didukung pake partai beragama apapun kek, tetap saja tujuannya mensejahterakan pribadi. bukan rakyat yang dipimpinnya.