Bagi-bagi uang itu bukan alasan…

Saya turut berduka cita, seiring melihat berita ini di TV saat berbuka puasa tadi. 21 orang meninggal karena berdesakan saat mengambil zakat fitrah yang dibagikan oleh keluarga pengusaha kaya, keluarga H. Syaikon yang membagi-bagikan uang sebesar Rp30.000,00/per orang. Dikira dapat membawa uang sebesar Rp30.000,00, malah nyawa yang hilang, capek, sakit, sesal, takut, depresi yang didapat. Kejadian Pasuruan ini, menunjukkan beberapa hancurnya kehidupan di Indonesia. Ekonomi yang sulit, tidak adanya keamanan, tidak adanya aturan, dan tidak adanya etika untuk membagi-bagian zakat.

Edited :mrgreen:

 

Sebenarnya ini salah siapa? (diulang lagi)

Baiklah, kita kaji ulang. Pak H. Syaikon memang berniat baik pada awalnya, berzakat dan membagi-bagikan rezekinya kepada orang yang membutuhkan. Tapi jika kita lihat lagi, apakah harus dengan membagi-bagikan uang secara massal? Bukannya ada amil zakat? Hmm,, mungkin H. Syaikon merasa kurang puas jika rezekinya diberikan kepada amil zakat, yang belum diketahui kemana uangnya diberikan. Mungkin pak H. Syaikon merasa lebih baik dirinya sendiri yang melakukannya yang memberikan rezekinya secara langsung. Tapi bukankah lebih baik jika dipikirkan secara masak-masak, sudah berapa kali kejadian seperti ini terulang? Bukannya sebaiknya diperkirakan dulu kira-kira berapa orang yang akan datang menerima zakat. Dan kali ini, jumlah yang diberikan sebesar Rp30.000,00. Nilai uang yang besar, apalagi untuk para rakyat miskin yang benar-benar membutuhkan uang, terutama di bulan Ramadhan ini, plus keadaan ekonomi yang benar-benar terpuruk. Bukankah sebaiknya dipikirkan ulang? apa tidak akan menimbulkan korban? selain itu… tanpa pengamanan? tidakkah itu terlalu berlebihan? selain itu, pembatas yang dibuat H. Syaikon hanyalah pagar bambu. Benar-benar mengkhawatirkan…

Jadi,, apakah kita bisa menyalahkan sang pezakat karena kejadian ini? Belum, jangan dulu…

Mari kita lihat dari sisi orang-orang yang bersikeras untuk menerima zakat. Ketika saya mendengar orang-orang yang berdesakan meminta zakat, langsung pikiran buruk menyusul. Yang terbayang pasti desak-desakan dengan orang yang berjubel banyaknya. Lalu ada ambulance, banyak yang masuk rumah sakit, dsb. Memang begitu nasib orang yang minta zakat dari tahun ke tahun. Mereka salah juga sih, karena berjubelan ke rumah H. Syaikon dengan jumlah lebih dari 5.000 orang. Tapi siapa yang tahu bakalan datang sebegitu banyak? Kan mereka per individu yang datang kesana, bukan diperintah satu kelompok? oke, lah, kalau kejadiannya kayak gitu. Tapi ga usah berdesakan dan saling mendorong satu sama lain, harusnya. Bagaimana jika tertib? mungkin bisa aman… Tapi dasar manusia ga sabaran dan tertib setidaknya untuk di Indonesia, beginilah jadinya. Lain cerita, seharusnya ekonomi Indonesia harus bisa lebih baik dari ini, tidak harus meminta zakat kepada orang lain… Dan begitu saya tanyakan dengan teman saya, dia malah jawab bahwa mungkin ada yang mampu ikutan berdesak-desakan.

.

.

.

Jadi siapa yang salah? Pezakat? Peminta zakat? Atau tidak ada yang salah? Atau mungkin dua-duanya bersalah? Tapi karena belum disalahkan, sebaiknya tidak usah dipikirkan terlalu jauh.

Tapi sekarang sudah ditetapkan tersangkanya, ketika saya nonton TV juga, saya turut berpendapat demikian :| . Yah, bayangkan saja. Orang-orang, khususnya ibu-ibu dan Lanjut Usia. Bukankah pihak panitia telah melihat begitu berdesakannya peminta zakat? Kenapa tidak dihentikan? Sudah sering kejadian seperti ini terulang dari tahun ke tahun,, nah, masih saja dilakukan. Peraturan juga telah menjelaskan, sebaiknya berzakat ke Badan Zakat. Bukan urusan kita lagi uang kita akan diserahkan pada siapa dan dimana. Allah SWT. yang tahu. Tidak usah muluk-muluk. Pertama kali mendengar kasus ini, saya langsung mencium adanya faktor alasan ekonomi dan politik didalamnya. Walaupun seandainya, memang niat tulus semata, seharusnya pihak pezakat harus mengorganisir dengan sebaik-baiknya. Ini adalah event besar dan bukan main-main, seharusnya mereka tahu resiko pembagian zakat massal ini.

Dan mungkin seharusnya kita harus memikirkan ulang suatu perkara untuk diputuskan dan berusaha untuk bisa menghidupi perekonomian dengan lebih baik. Perhaps,,

5 Tanggapan ke “Bagi-bagi uang itu bukan alasan…”


  1. 1 vizon September 16, 2008 pukul 2:16 am

    walau bagaimanapun, kita harus berterima kasih kepada h. syaikhon dan para korban. karena, dg peristiwa yg menimpa mereka inilah, kita semakin tersadarkan akan pentingnya zakat dilakukan dg ikhlas dan profesional… :)

    ———

    SyaoraNatsume

    hmm… *speechles*
    benar, tapi berapa kali kejadian seperti ini harus terjadi? sebaiknya dengan 1 contoh saja, kejadian tersebut tidak akan terulang persis, atau malah lebih buruk…

  2. 2 galeter September 16, 2008 pukul 4:04 am

    ahh.. udah lama ga kesini.. :shock:

    maaaf baru kesini lagi

    htp://galeter.wordpress.com

    ———

    SyaoraNatsume

    tidak apa-apa, kok.. sering-sering kesini saja, :mrgreen:

  3. 3 Adriano Minami September 18, 2008 pukul 6:54 am

    Begini dech, sebenarnya pemberi zakat itu ngasih supaya dikenal ama masyarakat.

    Kalo maksudnya tulus, knapa g lewat BAZIS atau datengin satu2?

    ———

    SyaoraNatsume

    Betul itu… Kalau ga ada ‘alasan’, ga bakalan ada bagi2 uang massal seperti ini? Pasti ada faktor alasan politik atau ekonominya…

    *Mulai kontra sama pak H. Syaikhon*

    Toh mereka yang dinyatakan bersalah, bukan? :P

  4. 4 kweklina September 20, 2008 pukul 5:37 am

    ikutan koment..

    Ya itulah jadi orang baik belum tentu mempunyai cara baik malah dicurigai yang tidak2.Jadi lain kali cara penyapaian atau memberi zakat supaya harus dipikirkan secara matang sebab dan akibat yang akan ditimbulkan supaya tidak terjadi hal yang dtak diinginkan apalagi sampai kehilangan nyawa sehingga niat baik,bisa benar2 menjadi baik.

    Seandainya ada niat terselubung dari pemberi Zakat,berzakat jadi tak berarti.Jika kita memberi dengan tangan kanan,tangan kiri jangan diberitahu.Jadi kebaikan yang kita berikan,kita lakukan,biarlah Tuhan dan hati manusia yang menerima zakat itu,yang menilai.

    Mudah2an perekonomian indonesia bisa makin baik!

    ———

    SyaoraNatsume

    Amiin…
    Benar itu, sebuah kebaikan tidak usah dibesar-besarkan. Itu riya namanya,

  5. 5 Adriano Minami September 20, 2008 pukul 9:55 am

    Hal seperti ini sering jadi ajang pencarian popularitas

    Sering liat kan artis2 memberikan bantuan/sumbangan/sedekah tapi pake acara panggil2 wartawan?

    Kemiskinan di Indonesia bukannya diperbaiki malah dijadikan ajang cari duit dan popularitas.

    Heran… heran saya ama bangsa ini….

    ———

    SyaoraNatsume

    Saya juga heran, kesusahan orang dijadikan ladang ‘tujuan’, entah itu duit, popularitas, pekerjaan, dll.
    Yang lebih mengherankan lagi (menurut saya), untuk apa orang-orang seperti itu memberi tahu orang banyak tentang kebaikan yang mereka lakukan. Tidak semua orang senang melihat orang bahagia. Kalau mau beramal, biarlah hanya Allah SWT. yang tahu. Yang lain-lain tidak usah, tidak ada gunanya, malah mungkin bisa membawa mudharat bagi diri dia sendiri.


Tinggalkan Balasan




About Me

Often called by SyaoranNatsume. Just a ordinary girl, with some point of otaku in her mind. A senior high school student at grade X. Currently 14 years old, now. Live in a earthquake-disaster city in Sumatera Island. Love all about Japanese, anime, manga, and games.

 

September 2008
S S R K J S M
« Agu   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Banner's created by Pandu